Selasa, 10 Oktober 2017

Allah loves you for your Sabr and Shukr

01.15 0 Comments
Bismillahirahmanirahim

Sungguh, tidak ada sesuatu kejadian yang Allah berikan pada hamba-Nya tanpa meninggalkan hikmah sedikitpun baik dalam keadaan senang maupun sedih. Karena keduanya merupakan ujian yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang hadir karena sebab dan tak boleh berlalu kecuali hikmah yang dipetik, karena insan yang tak pandai memetik hikmah akan selalu menyalahkan keadaan dan takdir. Naudzubillah Min Dzalik... Semoga kita dijauhkan dari sifat itu..
When Allah loves a servant, He tests him
(Nabi Muhammad SAW)
Ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah untuk hamba-Nya semata-mata tujuannya agar hamba tersebut kembali mengingat Allah, bahwa tidak ada zat apapun yang bisa menjadi tempat berharap pertolongan kecuali Allah ketika kita ditimpa ujian berupa musibah dan Dia juga lah yang memberikan ujian berupa nikmat. Karena jabatanmu, sehatmu, rizkimu, pasanganmu segala hal kebaikan yang kau terima saat ini merupakan ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah. Begitu pula segala hal keburukan yang menimpamu saat ini atau dikemudian hari seperti sakit, bangkrut, kemiskinan, kelaparan merupakan ujian dan cobaan dari Allah.
Lalu bagaimana sikap kita sebagai hamba Allah menyikapi ujian & cobaan?
Mari belajar ucapakan ini disegala keadaan yang menimpa kita.
Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat
Alhamdulillah ‘ala kulli hal 
 Qaddarallaahu wa maa syaa-a fa’ala.

Sebagaimana riwayat dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Beliau berkata,


ْ ﻛَﺎﻥَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ – ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﻣَﺎ ﻳُﺤِﺐُّ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻪِ ﺗَﺘِﻢُّ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺎﺕُ ‏» . ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻯ ﻣَﺎ ﻳَﻜْﺮَﻩُ ﻗَﺎﻝَ ‏« ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺣَﺎﻝٍ ‏» 

Kebiasaan Rasulullah jika menyaksikan hal-hal yang beliau sukai adalah mengucapkan “Alhamdulillah alladzi bi ni’matihi tatimmus shalihat” . Sedangkan jika beliau menyaksikan hal-hal yang tidak menyenangkan beliau mengucapkan “ Alhamdulillah ‘ala kulli hal “” [HR Ibnu Majah no 3803 dinilai hasan oleh al Albani].

قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ

Qaddarallaahu wa maa syaa-a fa’ala.

"Allah telah mentaqdirkannya, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan." [HR. Muslim 4/2052]

Bacaan ini mengandung makna agar kita tidak mencela atau tidak terima dengan takdir Allah. Jangan sampai kita mencela takdir Allah kemudian berandai-andai dan mengucapkan “seandainya” yang mengandung penyesalan dan sikap menolak takdir Allah atau tidak ridho. Karena hal ini bisa mengurangi kesempurnaan aqidah dan lemahnya kepercayaan terhadap Qada dan Qadar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﻚَ ﺷَﻲْﺀٌ ﻓَﻼ ﺗَﻘُﻞْ : ﻟَﻮْ ﺃَﻧِّﻲ ﻓَﻌَﻠْﺖُ ﻛَﺬَﺍ ﻟَﻜَﺎﻥَ ﻛَﺬَﺍ ﻭَ ﻛَﺬَﺍ , ﻭَﻟَﻜِﻦْ ﻗُﻞْ : ﻗَﺪَﺭُ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَ ﻣَﺎ ﺷَﺎﺀَ ﻓَﻌَﻞَ , ﻓَﺈِﻥَّ ﻟَﻮْ ﺗَﻔْﺘَﺢُ ﻋَﻤَﻞَ ﺍﻟﺸَّﻴْﻄَﺎﻥِ
Jika kamu tertimpa sesuatu (keburukan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, (QADARULLAH) ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan”.(HR. Muslim)

Kemudian sikap mukmin yang selanjutnya adalah bersabar.

Firman Allah dalam surat Al-Baqarah:
وَاسْتَعِينُواْ بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلاَّ عَلَى الْخَاشِعِينَ 
الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلاَقُوا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(Al-Baqarah [2] : 45-46).
SABAR yang dalam bahasa arab artinya : menahan & mencegah

Sedangkan secara syari bermakna menahan diri dalam tiga perkara:
  1. Ketika menjalankan ketaatan kepada AllahSeseorangnya hendaknya bersabar, sampai dia menunaikan apa yang Allah ta’ala perintahkan.
  2. Dari bermaksiat kepada Allah. Yaitu dengan tidak mengerjakan segala sesuatu yang Allah larang serta menjauhinya.
  3. Ketika menghadapi musibah yang Allah takdirkan Yaitu dengan menahan diri untuk tidak murka atau menggerutu terhadap musibah yang menimpa baik dengan lisan, maupun dengan perbuatan.
Lalu menurut para ulama sabar berarti:

  1. Keteguhan iman bersama Allah
  2. Menerima ujian dari Allah dengan lapang dan tenang


Keutaman-keutaman sabar:
Allah mencintai orang-orang yang bersabar
"Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya dijalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar" (QS. Ali-Imran: 146).


Allah akan senantiasa bersama orang-orang bersabar, dengan pembelaan, pertolongan, penjagaan, dan perlindungan-Nya

"Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar" (QS: Al-Anfal: 46).


Sabar merupakan sebab untuk meraih kebahagian hidup dunia dan akhirat
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap-siaga (di perbatasan negrimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS: Ali-Imran:200).


Sabar akan mendatangkan rahmat dan hidayah Allah dan cahaya penerang bagi pemiliknya 
" Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk" (QS: Al-Baqarah: 155-157).

Sabar akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda dan hanya Allah yang tau seberapa banyaknya
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan dipenuhi pahala mereka dengan tiada hitungannya.” (Az Zumar: 10).


Penutup:
Orang yang hadir dalam teras kehidupan kita hanyalah dua:
Yang datang untuk menggores luka, serta melelehkan air mata dan menguji kesabaran,
Yang datang membawa kegembiraan serta mengukir keceriaan hati supaya kita bersyukur dengannya.
Dan kita hanya punya dua menu:
Menu Sabar
Menu Syukur
(Ustadz Oemar Mita)

Wassalamualaikum


Ahad, 18 Muharram 1439 H
Kajian Ilmiah: Membenahi Aqidah
Oleh : Ustadz Muhammad Wasitho

Ayu Karmasiwi

Kamis, 28 September 2017

Jagalah Allah, Maka Allah akan Menjagamu

00.31 0 Comments


Sungguh indah perumpamaan orang yang sholih. Ia laksana pohon baik yang akarnya kokoh dan cabangnya tinggi menjulang sampai langit, dan menghasilkan buahnya setiap waktu dengan seizin Allah, sehingga ia bermanfaat bagi sekitarnya. Sebagaimana yang Allah tuturkan dalam QS. Ibrahim : 24-25. Rindangnya daun membuat ia teduh dan meneduhkan, banyak khalayak yang betah berlama-lama bernaung di bawahnya. Lebat dan ranumnya buah membuat orang terkagum-kagum akan kebermanfaatannya. 

Ah, sungguh indah jika keshalihan itu kelak hadir dalam sosok tubuh-tubuh mungil yang sedang Allah amanahkan pada diri kita. Yaitu pada diri anak-anak kita. Namun, rasanya tidaklah mudah membesarkan jiwa-jiwa polos itu di era globalisasi seperti sekarang ini. Dimana arus informasi begitu derasnya, perhatian anak terkecoh dengan gemerlapnya segela kemudahan, gadget dan teknologi. 

Apakah benar demikian? Saat ada berita miris mengenai seorang pemuda yang terkapar karena narkoba, dan anak usia SD yang mencabuli tetangganya yang masih balita, diluar sana ada juga anak-anak dengan iman yang menghujam di dada menegakkan kalimah Allah dengan pekikan takbirnya mampu meluluhlantakkan serdadu Israel laknatullah. Lalu mengapa ada sekian banyak bocah yang belum bisa membaca, bahkan belum lancar menyebut huruf ‘R’, namun sudah beratus-ratus ayat Al-Qur’an ia hafal, bahkan hadis. Dan mengapa Umar bin Abdul Aziz bisa menjadi khalifah Islam yang disegani meskipun banyak kemudahan di kehidupannya karena ia hidup bak anak raja? 

Jawabannya ada pada balik dinding rumah kita wahai Ayah/Bunda. Mengapa kita musti bimbang dan takut, sedangkan Allah swt sudah memberikan kita modal yang sangat besar untuk kita mendidik mereka. Ia bernama fitrah. Tersebut dalam QS. Ar-Ruum : 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” 

Fitrah itu sudah dihamparkan di jiwa-jiwa setiap manusia, termasuk anak kita. Laksana lahan subur yang terhampar luas bagi petani. Tugas orangtuanya lah yang menanam benih-benih tauhid itu, sedikit demi sedikit tanamkanlah nilai-nilai ketauhidan pada diri mereka, talqin-kan tentang syahadat dan maknanya, kisahkan pada mereka kisah-kisah teladan penuh hikmah, ingatkan selalu pada mereka bahwa Allah selalu mengawasi (muraqabatullah), selalu jadikan Al-Qur’an sebagai referensi utama dalam mendidik anak kita ataupun menghadirkan segala informasi dan ilmu. 


Fitrah mereka adalah mengenal Tuhannya, yaitu Allah. Tiada sanggahan apapun saat kita mendiktekan bahwa Allah lah yang menciptakan alam semesta dan segalanya, Allah bersemayam di atas arsy, kenalkan sifat-sifat Allah yang agung, niscaya jiwa polosnya tak akan mengelak, karena jiwa mereka telah berbaiat pada Rabbnya di alam ruh. Itulah modal awal yang sangat besar wahai Ayah/Bunda. Jangan pernah menyerah untuk membangun generasi robbani dambaan ummat. 

 Teringat kisah seorang anak penggembala yang diuji oleh Abdullah bin Umar saat ia sedang menggembalakan domba milik majikannya. Abdullah bin Umar bermaksud ingin membeli satu domba darinya tanpa diketahui majikannya. Namun anak penggembala itu menolak, karena hal itu tidak diketahui majikannya. Kemudian Abdullah bin Umar menguji anak itu untuk berkata dusta pada majikannya bahwa dombanya dimakan serigala. Dengan mantap anak itu menjawab, “Aynallah? ,maka dimana Allah?”. Reaksi anak tersebut membuat Abdullah bin Umar terharu dan bergetar hatinya karena menjumpai seorang anak yang sangat sholih dan menjaga Robbnya. 

Semoga jiwa-jiwa muroqobatullah seperti anak penggembala tersebut dapat tertanam juga dalam jiwa anak kita. Tercermin dalam setiap perilaku dan akhlaknya, hingga tiba saatnya nanti mereka dipanggil Rabbnya, mereka dapat pulang dengan indahnya ke kampung akhirat. Allahumma Aamiin. Maka saat ini mulai tanamkan pada diri anak kita, wahai anakku, jagalah Allah…niscaya Ia akan menjagamu…. Wallahu’alam bishawab. 

Depok, 19 Agustus 2017 
Riera Ummu Maiza 
*)Tugas Jurnal Essay Akademi Keluarga, 
Materi : Menanamkan Tauhid kepada Anak 
x